Kaliagung - Wiwitan Bersama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Padukuhan Tegowanu yang kembali digelar pada 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan Kelompok Tani Marsudi Bogo ini berlangsung setelah masa tanam kedua atau MT2 selesai sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil pertanian yang diperoleh masyarakat.
Wiwitan Bersama 2026 dilaksanakan pada Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB di Masjid Al Amin Tegowanu. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi petani dan warga untuk bersama-sama mengungkapkan rasa syukur atas tanaman padi yang tumbuh dengan baik sekaligus memperkuat kebersamaan dalam mengelola pertanian.
Kelompok Tani Marsudi Bogo merupakan kelompok tani yang berada di wilayah Padukuhan Tegowanu. Kelompok tersebut mengelola wilayah yang mencakup tiga bulak, yakni Bulak Kidul Kendal, Bulak Kidul Tegowanu, dan Bulak Gondosuli.
Tradisi Syukur Setelah Masa Tanam Kedua
Wiwitan merupakan tradisi yang telah dilakukan masyarakat sejak dahulu. Pada 2026, pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama setelah masa tanam kedua selesai.
Kegiatan ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil tanaman padi yang baik. Hasil pertanian yang diperoleh masyarakat diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan warga.
“Wiwit ini adalah memulai memanen hasil bumi. Harapannya ini wujud syukur ke depan warga Guyob Rukun dalam mengelola pertanian, mengelola hasil bumi karena ini merupakan anugrah dari Tuhan Yama Esa,” demikian penjelasan dari Dukuh Tegowanu Cahyono, S.Pd.I., M.Pd.
Pelaksanaan wiwitan juga membawa pesan yang lebih luas mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan. Tradisi tersebut memuat pesan ekoteologi untuk merawat bumi dan alam dengan kasih sayang serta cinta kasih kepada sesama.
Dengan demikian, kegiatan wiwitan tidak hanya berkaitan dengan proses panen. Tradisi tersebut juga menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada sektor pertanian.
Memperkuat Guyub Rukun Warga
Wiwitan Bersama menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan memperkuat semangat guyub rukun. Para petani dan masyarakat dapat bersama-sama menyambut hasil pertanian setelah melewati masa tanam kedua.
Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi wiwitan karena kegiatan pertanian tidak hanya melibatkan petani secara individu, tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, pengairan, hingga hubungan antarmasyarakat.
Tradisi ini diharapkan dapat terus menjadi bagian dari kehidupan warga dalam mengelola lahan dan hasil bumi. Selain mempertahankan warisan tradisi, kegiatan tersebut juga membawa nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Persiapan Wiwitan Bersama dilakukan dengan mempertimbangkan waktu panen. Masa panen tidak selalu dapat ditentukan secara pasti sehingga pelaksanaan kegiatan perlu menyesuaikan kondisi tanaman di lapangan.
Selain menunggu masa tanam kedua selesai, pemilihan hari juga menjadi bagian dari persiapan kegiatan. Dalam tradisi masyarakat, hari tertentu dipilih untuk mengawali kegiatan yang dianggap baik.
Wiwitan Bersama 2026 kemudian dilaksanakan pada Sabtu Pahing yang dipandang sebagai hari baik oleh masyarakat.
Pemilihan waktu tersebut menjadi bagian dari tradisi yang masih dipertahankan. Meskipun setiap hari pada dasarnya dianggap baik, masyarakat tetap memilih waktu yang diyakini sesuai untuk memulai kegiatan panen.
Wiwitan Bersama 2026 turut melibatkan sejumlah unsur masyarakat dan lembaga yang diundang dalam kegiatan tersebut.
Beberapa pihak yang hadir di antaranya perwakilan BPP Kapanewon Sentolo, lurah beserta pamong, Gapoktan, Kelurahan Budaya, dan Tim Monitoring. Kelompok Tani Marsudi Bogo sebagai penyelenggara juga hadir bersama warga penggarap lahan pertanian.
Kelompok Wanita Tani Seruni Asri Boga turut menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Keterlibatan berbagai unsur membuat Wiwitan Bersama tidak hanya menjadi agenda kelompok tani, tetapi juga menjadi kegiatan yang melibatkan masyarakat dan unsur pendukung sektor pertanian.
Bentuk Syukur Sekaligus Apresiasi Dukungan Pengairan
Selain menjadi tradisi syukur atas hasil pertanian, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan apresiasi terhadap dukungan pemerintah bagi sektor pertanian.
Salah satu bentuk dukungan tersebut berupa bantuan pengairan. Ketersediaan air menjadi bagian penting dalam kegiatan pertanian, terutama untuk mendukung pertumbuhan tanaman selama masa tanam.
Pada masa tanam kedua tahun ini, kondisi air disebut mengalami pengurangan. Meski demikian, dukungan pengairan dari pemerintah tetap menjadi bagian yang diapresiasi dalam kegiatan Wiwitan Bersama.
“Dan harapan kembali juga ini sebagai bentuk terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan berupa pengairan, walaupun di MT2 ini air agak berkurang,” lanjut Cahyono.
Pada kesempatan yang sama, juga dilaksanakan peresmian bantuan dari Pemerintah Republik Indonesia untuk kelompok tani di Bugo.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap kelompok tani dalam menjalankan aktivitas pertanian. Peresmian yang dilaksanakan bersamaan dengan Wiwitan Bersama membuat kegiatan tersebut memiliki rangkaian agenda yang berkaitan dengan tradisi masyarakat sekaligus dukungan terhadap sektor pertanian.
Merawat Bumi melalui Tradisi Pertanian
Tradisi wiwitan menjadi salah satu cara masyarakat untuk mempertahankan hubungan tersebut. Hasil bumi yang diperoleh tidak hanya dipandang sebagai hasil kerja manusia, tetapi juga sebagai anugerah yang perlu disyukuri.
Pelaksanaan secara bersama-sama juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan tradisi yang telah dilakukan masyarakat sejak dahulu. Nilai guyub rukun, rasa syukur, kepedulian terhadap alam, dan penghargaan terhadap hasil bumi menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Melalui kegiatan tersebut, Kelompok Tani Marsudi Bogo bersama warga penggarap, Kelompok Wanita Tani Seruni Asri Boga, unsur pemerintahan, Gapoktan, Kelurahan Budaya, dan Tim Monitoring ikut menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan dalam mengelola pertanian. (arum-sid)***